Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Luka yang sama

Aku tahu Kau bilang pasti aku tak apa Aku bahagia bahkan perasaanku sangat merasa lega yang paling lega. Tidak, kau salah. Tersambut takdir sedih setiap pagi, berpesta air mata ketika malam. Aku mencintaimu, bertahun-tahun aku menahannya. Mencegah rasa aneh itu sejak dini, ya. Sejak kita pertama bertatap muka, sejak kita saling bercengkrama dalam cerita. Namun, aku tak bisa menerima ketika kau tak pernah bisa  memilih. Aku tak mampu lagi menerimamu yang memberiku masa semi dan badai paling banyak. Hatiku berisik, bilang kau tak akan kasar. Hatiku berisik, bilang aku sangat menyukaimu. Tapi jiwaku tak bisa terima, karena kau yang menyambut petir paling serius. Memberi hujan yang sangat deras setiap musim. Sedang, kini aku tak lagi bimbang; kau tau aku tak akan lagi memilihmu. Meski kau temuiku di surga seandainya, akan selalu kupalingkan rasa. Jika kau tak pernah berubah:)

Dari Langit Untuk Bulan

Bagai merindukan bulan yang ditelan mendung, aku adalah langit yang linglung. Berputar mencarimu yang tertutup seseorang yang di mataku seolah hitam. Gelap, menusuk ke relung-relung dadaku jika aku mengingat kau yang hanya membuatku redam. Pergi lama, datang sebentar. Tertutup mendung hingga aku tenggelam dalam kerinduan yang hanya kau buat agar aku merentan lelah yang lantang. Kaubuat aku lesu, menyudutkan bayangmu diam-diam; menyalahkanmu dalam keadaan dan meradang sebab kau hanya membuatku menangis. Menyampaikan hujan pada bumi yang tak bersalah. Kau anggap aku apa hingga kau tak memberiku kesempatan menyampaikan sebuah senyum langit yang semringah? Kau hanya memberi celah pada mentari yang selalu akan pulang di petang. Yang memberiku rona garis kemerahan yang membuat ribuan mata di bumi untung sebentar, bahagia sebentar dan reda sebentar; tapi ia enggan memberiku bahagia abadi seperti rembulanmu yang kau pupuk dalam hatiku agar aku bisa menunjukkan purnamamu yang begitu indahnya. K...

Sama Halnya

sama halnya dengan api yang terlihat tak menyala. kuselipkan sebuah nama yang enggan kusebut dalam nyata, hanya saja kutiupkan dalam setiap hembus sujud dan doa (': sama halnya dengan rintik yang hanya kauintip namun tak kaudatangi. aku hanya sepercik bekas hujan yang kauinjak di lubang jalan. sama halnya dengan jejatuhan daun yang berserakan, tak kaugubris. namun, kau seret dengan alas kakimu. hijau meneduhi, kuning bertabur, terbang tak berarah. tak peduli mengejarmu hingga kemana, pasrah-- hingga suatu waktu takdir membuat kamu memutuskan untuk menggenggamku, mempermainkanku atau menguburku dalam-dalam agar aku tak lagi bisa menginginkan untuk membersamaimu:")

Ilusi dan Luka

Bagai badai yang mengguncangku tiba-tiba. Kau buat detak jantungku bergetar tak berarah. Kau ajarkan aku bahagia dengan selingan luka. Sebab, kau adalah ilusi palsu yang hadir dalam mimpi yang merangah lara. Kau peluk aku di sana, kau buat aku berangan-angan seakan kau tiba dalam nyata. Membahagiakan aku bukan hanya dengan sekadar rasa, kau taburkan percikan andai-andai indah dalam setiap janji dan kata. Kini, segala rasa yang kupunya menyambar setiap luka yang bukannya pudar tapi makin bertambah.