Duri Sejuk - Putri batul
Duri
Sejuk
Putri
Matlubatul Izzah
Kau selalu meraup wajahmu seperti membasuhkan luka
ku
Hati beningmu itu..
Meraut hati..
Hingga tertuntun ujar tinta hitamku menggores
utuhnya kertas putih
Merapikan puing-puing hatiku yang hancur lalu
menguatkan kerapuhannya
Tutur katamu mesti membuat lontar ucapmu membekas
Menciptakan perasaan yang berbelit hingga sulit ‘tuk
kurapikan
Keseriusan mata indahmu dalam memandang sesuatu
membuatku merasakan keinginan besar untuk menjadi
hal yang kamu lihat
Hanya saja hatiku terjebak rasa takut
Terkunci dalam keraguan melangkah
Mengenalmu beberapa waktu yang lalu
Saat aku baru terluka dan kamu baru berdiri dari
kekacauan
Kamu dan aku sudah bertukar pengalaman karena
percaya pada orang yang salah
Seolah searah, tapi hati dan jiwa kita tetap
bersinggungan
Tak senada
Lalu berjalan pada jalur yang berbeda
Sangat banyak reruntuhan bahagia
Namun, kusimpan pada baris tanya rahasia
Ribuan manis kutahan
Lalu kutahan tak kubuang tetapi kususun
Terkadang aku tak mengerti maksud tatap dan senyum
lembutmu untukku
Kau adalah alasan
Membuatku mencari-cari jawaban atas pertanyaan yang
menggaruk pemahaman
Melihat satu per satu dari jutaan manusia yang
berpapasan denganku
Dan berharap kamulah orangnya
Seolah radar hatiku menyala tiap memandangmu
Perlahan kau hapus luka yang tersisa
Guguran benci dan jutaan pahit kamu ubah menjadi
satu lengkung bulan sabit manis yang tersenyum
Terik diatas kepalaku yang menyengat berubah menjadi
kesejukan karna tawamu
Bersama mu, hujan menebarkan jatuhan tetesnya dengan
menari-nari
Kamulah derai tangis yang meneteskan embun-embun
lega
Risauku karnamu membuatku tenang terbawa silir angin
Memang, fikir dan hatiku berjalan tak seiring
Tetapi mereka bersautan tentang hatiku dan hatimu
yang bertaut rapat tanpa kita sadar
Seringkali hatiku meruahkan bahagia terpendam saat
langkahmu tertuju pada tapakku
Terdiam,
Membendung rasa,
Dan menahan mata yang berkaca-kaca
Sampai kapan cinta ini hanya bertengger tanpa berani
mengepakkan sayap?
Sampai kapan hal yang belum kukenal ini menggaruk
arti?
Sampai kapan julir pedih menancapi batin renungku?
Semua ini tak mampu aku mengerti
Ada di sisi mu
Tertumbuh tawa, tertusuk-tusuk
Bahagia, rasanya sakit
Tetapi semua itu kurasa menguatkanku
Sunyinya malam selalu menghiruk
Pengakuanku tak sanggup memekuk
Aku tidak akan beranjak walau malam telah ditelan pagi
Embun tajam, penuh perih
Hanya yang kurasa sejuk sekali, walau tumpukan
jeruju mendorongku tiap mengingatmu.
Wajah, dan mata yang selalu kusebut diatas
garis fikir yang aku bayangkan
Meskipun harus menanggung perihku karna kamu yang
tak sanggup ku raih
Aku tak peduli
sesakit apa duri-duri mu menyiksa ku
Aku tak peduli
walau banyak pekik kesakitan
Izinkan aku
menahannya
Bersama genangan
yang penuh harap
Bersama melodi
puisi
Aku mencintaimu
meski tanpa pemahaman
Lalu biarkan
takdirku yang mencabutinya
Komentar
Posting Komentar