Kemunafikan - Putri batul
Kemunafikan
Putri
Matlubatul Izzah
Lalu untuk apa
memerhatikan seseorang yang tak menggubris satu pandangku sekalipun
Ingatkah saat
kita dahulu saling bertatap muka dan menukar tebaran bunga yang memaksa
memekarkan jutaan gulir kerinduannya
Saat kebetulan
kita melaksanakan kewajiban dengan shalat berjama’ah
Kamu selalu
memilih untuk berada pada depan lurusku
Dimana aku
akan berdiri tegak menghadap Tuhanku dengan harap tujuan hidup yang tertata
Dengan rambut
basah karena terbasuh air wudhu
Dirimu membuatku
selalu terbata dalam berkata-kata
Seolah
terbayang serperti kulihat imam bersahaja yang akan menuntunku pada langkahku
esok
Bayangkanlah
betapa bahagianya hati jika kekasih yang kuyakini berada dalam takdir, hidup
dan bagian dari doaku
Coba kutanya
apa kamu pernah merasakan jutaan manis yang tlah kamu ciptakan ?
Meski
sebenarnya kamu tak mengerti satupun dari kisah yang kurasakan pada lubuk
hatiku yang terendam rasa yang penuh kebahagiaan
Perasaan yang
terombang-ambing dalam rajut rasa
Dengan tanpa
kusadar bahwa kita sudah sangat lama telah terpisah
Sungguh indah,
bahkan tak mampu ku enyahkan dari lumbung ingatanku
Kamu bagai
satu potongan dari benteng yang melindungiku dari terik saat upacara
Bahagianya aku
yang selalu kamu jaga sepanjang hariku
Kamu adalah
embun yang datang membawa butir sejuknya
Yang memberiku
pengertian saat ku terbaut kesulitan
Sangat banyak
yang membekas lalu menenggelamkanku
Masih terselip
ribuan bekas yang membujur lalu menyayat batinku
Bagai rembuk garam
yang memenuhi lidahku
Menciptakan
rasa pahit yang membelitkan jalin fikirku
Kamu seolah
seperti satu payung kecil yang melindungiku dari tetes tangis awan hitam
Menjadikanku terpikat
untuk menahan kepercayaan pada poros hati indahmu
Membuatku
terfikir bahwa kamulah hal termanis diatas yang terindah
Menggeliat asa
ku agar menyatu dalam hidup yang kuharap terang
Sampai
kapankah ku harus menahan bahagaiaku dengan tinta diatas lembar-lembar buku diary ku
Hingga hampir
habis fikirku saat aku harus terpaksa terima kenyataan
Yang tak
pernah kuduga
Bahwa waktu
merenggutmu dari detik dimana aku telah usai menyusun melodi untukmu
Sepertinya
tumpukan ketulusanmu telah pergi karena satu hal baru
Sampai
membuatku yang ada di genggamanmu jatuh
Lalu kamu
injak tanpa kamu rasa
Nampaknya kamu
adalah daun yang mengering tanpa adanya kemarau
Tertiup angin
berlalu lalang
Yang kurasa
kamu akan datang dan pergi bahkan terkadang kamu lupa kembali
Sampai
akhirnya kamu benar-benar tak mampu ku lihat
Kamu hilang
terbawa badai kehancuranku
Kekecewaan ku
yang mengusir ingatan masam yang kurasa terlalu kejam untuk hatiku
Ku
pergi, ku melupakanmu
Ku
hanya bisa diam dengan menyimpan kenangan yang membuat kekacauan yang mencekik
leherku
Kamu
tak pernah memerdulikan ukiran luka yang kamu buat dengan duri
Ku
terpaksa menahan kemunafikan nyata dalam ombak nalarku
Ku
beranjak berdiri lalu aku akan berlari sekuat semampuku
Mengeringlah
air mataku karena mengenangmu
Komentar
Posting Komentar