Ketahuilah Keluhku - Putri batul
Ketahuilah
Keluhku
Betapa aku ingin kamu
mengetahui sesuatu yang kusimpan sendiri, dengan menahan bendung duri resah
pada keluh emosi yang meruah. Ragaku kamu uji. Bertahan bersama tetes air
mataku yang tak beranjak. Inginku lari dari semua ini. Rasanya aku terjerat dalam langkah yang sulit
kuhindari. Jerit tangisku tak pernah kamu pahami. Coba saja tapakku dan tapakmu
berhadapan, aku tak bisa membayangkan berapa tawa yang akan tertumpah kembali
pada bibirku; yang rindu pada suara yang membuat kenangan yang kian sulit
enyah. Betapa hal yang belum kubayangkan tiba-tiba datang merangkum nyata yang
akan kutulis kembali pada lembar lamaku denganmu. Kekosonganku sulit kuhindari,
rasa ini menusukiku sambil memaksaku untuk mengingatmu yang sulit untuk kupeluk
kembali. Lalu sadarku hanya mampu terisak-isak sambil tenggelam dalam dada yang
sesak karena bayang indahmu. Sanggupkah kaki hatiku yang tlah lama melumpuh
berlari sendiri bersama rasa perih yang tertinggal dalam kalbu? Yang tertindih
rasa yang lama telah kusimpan baik-baik. Kamu adalah kisah yang terhapus
titiknya, hingga membuat satu baris indahnya menjadi kalimat yang terbata-bata.
Kamulah sosok yang telah lama menghilang dari dongeng lamaku. Kamu pergi
bersama janji indah yang belum kutemui lagi, kamu hanyut terlalu jauh saat aku
makin mencintaimu hingga dalam diam, berhenti mengusikmu dalam rindu yang tak
mampu kutahan. Aku terpaku dalam senyum terakhirmu.
Entah mengapa kamu selalu
menggangguku pada torehan lembar hidupku tanpa kutemui hatimu melalui tatap
yang sudah lama tak mampu kusentuh kembali. Aku tidak mengerti, rasa ini selalu
menggugurkan setiap senyum yang harusnya kutebar dalam pandang tiap sapa.
Jangan bertanya mengapa aku meneteskan tiap keluhku pada dunia yang selalu
membahas dan mendatangkan keadaan yang mengingatkan wajahmu. Hati yang pernah
kumiliki takkan mungkin bisa membuat segala manis yang dahulu selalu kusanding
erat. Sengaja kubiarkan jutaan getir sendu yang terus-menerus membebaniku,
karena ia-lah yang menemaniku di setiap lelap malamku; yang mengganggu tidurku
tetapi menghadirkan dirimu dalam mimpiku. Masih kuingat suaramu yang selalu
berkesan walau sudah memudar. Aku mampu berkata bahwa kamulah sosok yang tak
mungkin kutemukan lagi. Aku tidak pernah mampu membencimu meski kutahu, kamu
tidak akan bisa berhenti memandangku hanya dengan sebelah matamu. Bagaimana
bisa aku terbang dengan sayap yang patah karena kepergianmu. Bagaimana bisa aku
berhenti mengikuti bekas jejak kakimu yang samar-samar setelah mengacuhkanku.
Aku adalah gitarmu, yang selalu kamu petik tanpa harus patah di depanmu. Aku
adalah ornamenmu yang pernah kamu ukir terlalu dalam, arsitekku. Aku selalu
menjadi boneka yang kamu buat dalam animasimu. Ketahuilah,
Komentar
Posting Komentar