Selalu saja duri sejuk itu menemani tiap harinya. Memperparah kesunyian tetapi menghadirkan bayang-bayang yang sukar terhapus, Mencintai, tapi sangat menyakitkan.
Luka yang Kusadari Putri Matlubatul Izzah Sekarang aku tahu, telah aku pahami. Kini aku menyadarinya , ini yang memang kamu niati Ini yang memang kamu ingini Aku tlah mengetahuinya Kamu datang hanya untuk menyakiti hati Bahkan kamu rela berkorban sejauh itu agar kamu bisa meletakkan torehan luka sebanyak ini Aku berdiri karna kata-katamu yang menjelma menjadi curahan bahagia ini Kamu bilang kamu datang untuk memberiku kesan cinta sejati Apa artinya jika kamu datang hanya untuk menancapkan kisah perpisahan dihati Nyatanya kamu buat aku mengerti apa artinya luka yang kamu beri Kamu bercerita tentang janji, kamu membuatkanku teka-teki Satu hal yang ingin aku ketahui Mengapa kamu tidak pernah menceritakan tentang bukti Kamu menjeratkan hati yang tlah kau isi pada jutaan duri Kamu silatkan pedang panjang pada relung batin ini Tentu saja, kamu tak akan bisa merasakan apa yang kini aku rasakan Kamu yang membuatkan luka yang terus terombang-ambi...
Aku tahu Kau bilang pasti aku tak apa Aku bahagia bahkan perasaanku sangat merasa lega yang paling lega. Tidak, kau salah. Tersambut takdir sedih setiap pagi, berpesta air mata ketika malam. Aku mencintaimu, bertahun-tahun aku menahannya. Mencegah rasa aneh itu sejak dini, ya. Sejak kita pertama bertatap muka, sejak kita saling bercengkrama dalam cerita. Namun, aku tak bisa menerima ketika kau tak pernah bisa memilih. Aku tak mampu lagi menerimamu yang memberiku masa semi dan badai paling banyak. Hatiku berisik, bilang kau tak akan kasar. Hatiku berisik, bilang aku sangat menyukaimu. Tapi jiwaku tak bisa terima, karena kau yang menyambut petir paling serius. Memberi hujan yang sangat deras setiap musim. Sedang, kini aku tak lagi bimbang; kau tau aku tak akan lagi memilihmu. Meski kau temuiku di surga seandainya, akan selalu kupalingkan rasa. Jika kau tak pernah berubah:)
Terlalu Perasa Putri Matlubatul Izzah Menahan peluh dalam kesendirian Dahulu, kau selalu ada saat aku tak butuh denganmu Kau gantikan pedihku dengan tawamu yang menyeramkan namun meringankan Sudah lama aku mengenalmu Tak ada lagi yang tak kutahu Selalu saja kau bercanda Namun bercandamu itu mengerikan. Katamu cinta, tapi tak nyata Katamu rindu, tapi itu tak benar. Aku berlarian bersamamu Dalam jutaan sendu yang tak kukenali, Aku meradang ribuan ucap palsumu Kesalku, tak pernah kau gubris. Jika saja kau tahu, Terlalu dalam rasa takut yang kupunya.. Terlalu sulit ikhlas melihatmu dengan dia yang disitu atau dia yang disana Selalu saja kau asik sendiri, Mengejar sosok lain yang kau ingini. Ada saja yang membuatku menangis. Semua itu lucu, Selalu saja kau menyeringai. Tersenyum seolah tak bersalah. Membuatku mencari-cari, Kau datang hanya jika kau mau, Kau datang dan pergi seenaknya. Tanpa kau tahu, Aku lelah berlari be...
Komentar
Posting Komentar