Putri batul - “Sayangnya, Aku Hanya Teman Biasa”
“Sayangnya, Aku Hanya Teman Biasa”
Aku
tak pernah mengerti mengapa kau tak mampu memahami apa yang selama ini kumau,
aku selalu ada saat kaupanggil. Aku senantiasa menunggumu walau di tengah
keramaian yang mencekam. Sulit mempertanyakan padamu, karena setiap
pertanyaanku tak ada jawabmu. Kau tak pernah mengerti apa maksud segala baris
kata yang tiap kali kubuat untukmu, kuukir tiap saat yang bermakna. Namun, tak
ada artinya. Aku hanya teman biasa, tiada kesempatan bertanya siapa wanita itu.
Aku hanya sesuatu yang merepotkanmu, tiada kesempatan untuk memanggilimu.
Selalu
ada sesal saat aku terlambat menemanimu, karena wanita itu selalu memenangkan
hatimu. Selalu ada perih yang tertinggal, hingga aku harus menahan tangis
dengan melangkahkan kakiku untuk pergi. Aku merasa iba, sebab wanita itu selalu
tiga langkah di depanku. Untungnya, kau tetap datang meski tak kutahu. Kau
tetap kutunggu, meski menyakitkan untukku. Selalu kudoakanmu ‘tuk memeluk impianmu,
meski kau selipkan doamu untuk mampu bersama wanita itu.
Tak kusangka bahwa
rasaku menyimpang, rasa ini datang walau sudah berkali-kali kuhindari. Kau beri
aku kedatangan yang melegakan, kau beri aku senyuman yang menyenangkan. Kau
beri aku harapan yang penuh kemustahilan, kau beri aku desahan rindu yang menyakitkan.
Aku ingin mengulangi malam itu, malam di mana aku merasa aneh saat kau
menggenggam tanganku, malam di mana aku merasa resah saat berjalan denganmu.
Malam di mana aku merasa bahagia saat kauantarkan aku pulang.
Kuingin memutar
waktu, dan menghapus semua yang kurasa hari ini dan hari lainnya jika kuingat
dirimu. Kubuat diriku lupa perihal keresahan yang menggantungkanku saat kutatap
bayang tubuhmu menghampiriku. Kupandang hampa yang membawa kelip bintang serupa
dengan lingkar senyummu. Kau menuntunku ke arah langit yang cerah, lalu kau
tinggalkan aku sambil menyisakan mendung di hatiku. Jangan kautanya mengapa aku
sedih, aku hanya merisau tentang hal yang melintas di pikirku.
Kutahu batasku
:’) aku sekadar menumpahkan pilu pada tulisan yang tak terpahami olehmu. Andai
saja kautahu, aku telah berusaha sekuat dan semampuku. Melupakan semua yang
kulalui saat bersamamu, tak semudah menjatuhkan batu pada air yang dangkal.
Sesulit perahu kertas yang mengambang, yang hanyut perlahan, tersangkut-sangkut
bebatuan. Sedikit berjalan, sulit meninggalkan. Sebab setiap hari aku bertemu
denganmu, berpura-pura tak berperasaan, memasang bola mata yang formal.
Berbicara dengan cara yang sama, menyembunyikan irama detak yang tak karuan.
Kutahanmu agar kita bisa bersamaan, karena jika kau jauh, aku semakin tak bisa
menahan.
Komentar
Posting Komentar